Pengertian kerapan sapi madura

Sejarah Kerapan Sapi Madura – Makna Tradisi Unik Masyarakat Madura

MADURA PUNYA TRADISI – Sejarah kerapan sapi di Madura merupakan sebuah tradisi dan kebudayaan yang dilaksanakan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Budaya khas Madura ini sudah sangat terkenal baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional.

Tradisi ini di perkirakan sudah ada sejak abad ke 13 dan biasanya kejuaraan kerapan sapi merupakan sebuah prestasi dan kebanggaan yang akan mengangkat martabat di masyarakat.

Untuk mengetahui seperti apasih kerapan sapi itu, dan bagaimana sejarah kerapan sapi di pulau madura, mari ikuti terus pembahasan artikel berikut ini.

Pengertian Kerapan Sapi

Pengertian kerapan sapi madura
Bobo – Grid.id

Sejarah Kerapan sapi merupakan sebuah kebudayaan asli dari pulau madura yang menampilkan perlombaan adu pacuan sapi.

Pada saat lomba sedang berlangsung, maka akan kita lihat aksi sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu tempat joki berdiri.

Joki akan berusaha mengendalikan pasangan sapi tersebut yang dipacu dalam lomba adu kecepatan melawan pasangan sapi lain.

Biasanya Trek pacuan tersebut berjarak sekitar 100 meter sementara waktu lomba untuk pacuan berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit.

Jika di Madura beberapa kota biasanya menyelenggarakan kerapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun.

Kerapan sapi di Madura merupakan sebuah tradisi serta kebudayaan yang dilaksanakan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Untuk pertandingan finalnya diadakan pada akhir September atau Oktober berlokasi di eks Kota Karesidenan, Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Pada bulan November tahun 2013, kejuaraan Piala Presiden namanya diganti menjadi Piala Gubernur.

Sejarah Kerapan Sapi

Asal usul sapi kerap
Beritagar

Awal mula sejarah kerapan sapi di madura dilatarbelakangi oleh keadaan tanah di madura yang kurang subur sebagai lahan untuk pertanian.

Maka dari itu banyak orang-orang Madura berganti mata pencaharian sebagai nelayan di daerah pesisir. Sekaligus beternak sapi untuk digunakan bertani khususnya dalam membajak sawah atau ladang yang masih bisa di garap.

Hingga suatu ketika tampillah seorang ulama Sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi.

Beliau merupakan Pangeran Katandur atau Raja ke 9 Sumenep, yang menciptakan metode cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu.

Kemudian alat ini dikenal masyarakat Madura dengan sebutan “nanggala” atau “salaga” yang dalam prakteknya ditarik dengan dua ekor sapi.

Pada awalnya tujuan diadakannya Kerapan Sapi adalah untuk memperoleh sapi yang mempunyai fisik kuat untuk membajak ladang atau sawah.

Berawal dari ide inilah kemudian muncul adanya tradisi kerapan sapi, sekaligus juga menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya khususnya setelah menjelang habis musim panen.

Sebelum acara kerapan dimulai biasanya didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi musik saronen khas madura.

Artikel terkait

( Sejarah candi prambanan )

( Sejarah candi mendut )

Pelaksanaan Kerapan Sapi

Pertandingan kerapan sapi madura
Radar Madura – Jawa Pos

Dalam waktu pelaksanaannya, Karapan Sapi terbagi menjadi empat babak, yaitu:

Pada babak pertama, semua sapi yang akan diperlombakan dibagi menjadi dua pasang terlebih dahulu, tujuannya untuk memisahkan antara kelompok menang dan kelompok kalah.

Semua sapi baik yang menang ataupun yang kalah dapat bertanding kembali dibabak ini sesuai dengan kelompoknya.

Babak kedua yaitu babak pemilihan kembali, jadi sepasang sapi pada kelompok yang menang akan dipertandingkan kembali.

demikian juga sama dengan sapi-sapi pada kelompok yang kalah.

Semua pasangan sapi pada babak ini baik dari kelompok menang dan kalah tidak boleh bertanding kembali kecuali beberapa pasang sapi yang menduduki posisi teratas di masing-masing kelompok.

Selanjutnya adalah babak semifinal. Pada babak ini semua sapi – sapi yang sudah menang pada masing-masing kelompok kembali di adu untuk menentukan tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kelompok yang kalah.

Babak terakhir atau babak keempat adalah babak final, pada babak ini digelar pertandingan untuk menentukan juara I, II, dan III dari kelompok kalah.

Baca juga

( Sejarah tapak suci )

( Sejarah pencak silat di indonesia )

Makna Kerapan Sapi Bagi Masyarakat Madura

Bagi masyarakat Madura Karapan Sapi merupakan entitas khusus kebudayaan yang sudah mendarah daging di masyarakat.

Budaya ini merupakan budaya asli Madura yang tidak dimiliki oleh daerah lain, bahkan didunia sekalipun.

Sapi Karapan adanya hanya di Madura, karena sapi Madura punya ciri khas tersendiri dan tentunya tidak sama dengan sapi yang ada di diluar Madura.

Ciri – ciri umum yang dimiliki sapi Madura yaitu sapinya lebih liar, lebih bringas, lebih sangar, ketimbang sapi luar Madura.

Maka dari situlah salah satu alasan warga Madura mengadakan pertandingan karapan sapi.

Makna kerapan sapi bagi masyarakat Madura sangat penting, bahkan sampai diperuhkan semua hal untuk mencapai kemenangan. Berikut makna kerapan sapi bagi masyarakat Madura secara umum:

1. Kerapan Sapi Sebagai Identitas Sosial

Makna kerapan sapi
Tribun Pontianak -Tribunnews.com

Hampir sebagian masyarakat Madura pecinta sapi kerap, mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan sapi kerapan yang terbaik.

Karena dengan menjuarai sapi kerap, maka harkat dan martabat seorang warga Madura akan lebih dihormati, maka dari itu menjuarainya menjadi tujuan klis yang ingin digapainya.

Pada saat sapi kerap menjuarai sebuah pertandingan, maka harkat dan martabat orang yang memilikinya tersebut menjadi lebih terpandang.

Jika menang dalam tingkat desa, maka sang pemilik sapi pemenang akan menjadi terpandang di seantaro desa dan begitu seterusnya, tingkat kecamatan, kabupaten hingga se-Madura.

2. Antara Harta dan Prestasi

Sebuah prestasi kejuaraan
Ensiklopedia Indonesia

Biaya untuk perawatan sapi kerap sangat mahal, dalam merawatnya harus dilakukan kerja ekstra agar sapi benar-benar siap menjadi sapi kerap.

Selai itu dibutuhkan jamu yang terdiri dari rempah-rempah dan telur yang dapat menelan biaya jutaan rupiah.

Bahkan cara mandinyapun lebih istimewa dari pada sapi biasanya, bahkan dari sang pemilik sekalipun.

Persiapan dan perawatan sudah mulai ditingkatkan tiga bulan sebelum pertandingan dimulai.

Dari mulai pemijatan, jamu, hingga ke ramuan-ramuan khusus demi vitalitas supaya saat pertandingan menjadi sapi terbaik.

Sehari sebelum sapi diberangkatkan kelapangan untuk mengikuti pertandingan. Sang pemilik sapi biasanya akan mengadakan doa bersama demi kemenangan dan keselamatan sang sapi yang akan diikutsertakan dalam lomba.

Sapi tersebut dipajang didepan rumah, dihadapkan para warga sekitar yang diundang untuk ikut mendoakan sapi tersebut.

Semalam suntuk sapi tersebut dipajang didepan rumah sang pemilik hingga sampai pagi hari.

Semalam itu pulalah, para warga sekitar juga turut serta tidak tidur demi bersama dengan pemilik sapi menjaga sampai pagi.

Hal demikian dipercaya sebagai suatu tirakat untuk kebaikan serta kemenangan sapi pada saat perlombaan.

Setelah lomba selesai, dan salah satu sapi benar-benar menjadi sang juara maka sang pemilik sapi tersebut mengadakan tasyakuran.

Pada saat acara tasyakkuran, lagi-lagi sapi tersebut dipajang didepan rumah semalam suntuk bersama dengan warga sekitar yang tidak tidur karena turut bangga atas capaian prestasi yang sudah diraihnya.

3. Sebagai Prestasi Dan Kebanggaan

Prestasi kejuaraan kerrap
1001 Indonesia

Bagi masyarakat Madura nilai prestasi perlombaan kerapan sapi tidak bisa ditukar dengan uang atau harta, karena prestasi tersebut akan menjadi identitas sosial yang akan terus dikenal sepanjang waktu.

Bahkan hingga sang pemilik meninggal, sejarah kemenangan dalam kerapan sapi akan menjadi cerita secara turun temurun.

Walaupun sang pemilik sapi yang juara tersebut meninggal dunia, sejarah kemenangannya tersebut tidak akan ikut terkubur.

Sejarah kemenangannya akan dibanggakan oleh anak cucu dan buyutnya atas capaian sang kakek dalam merawat dan memenangi pertandingan kerapan sapi pada zamannya.

Ritual Kerapan Sapi

Sejarah kerapan sapi
Kebudayaan.kemdikbud.go.id

Ada beberapa ritual yang biasa dilakukan sebelum pelaksanaan kerapan sapi yang perlu dilakukan seperti berikut ini:

  1. Sebelum lomba dimulai, umumnya para pemilik sapi kerrap akan memepersiapkan alat-alat yang biasa digunakan pada pertandingan seperti : kaleles, pangonong, tali pengikat, joki/sais, cambuk, kalung, selendang, air, ember (tempat jamu) serta saronen (alat musik tiup madura). Sealin itu juga memerlukan personel berjumlah sembilan orang menggunakan pakaian adat madura.
  2. Sebelum sapi – sapi dipertandingkan, terlebih dahulu dilakukan pemanasan dengan cara mengitari lapangan sambil diiringi music saronen, gendang, kelenong dan sebagainya sambil ngijung dan menari (penari remaja).
  3. sapi kerrap juga perlu dimandikan terlebih dahulu beberapa menit sebelum dimulai, kemudian di olesi dengan spiritus yang sudah dicampur balsem dan jahe yang ditumbuk halus. Selain itu sapi juga diberi minuman seperti obat kuat, ramuan dan jamu rahasia lainnya agar sapi-sapi ini bisa berlari kencang dan kuat. Bahkan agar pada saat pertandingan sapi bisa rilek dan tidak tegang, kaki – kakinya pun dipijat dahulu.
  4. Selain perawatan secara fisik, pemilik sapi juga melakukan ritual khusus untuk menjaga sang sapi supaya dapat menjuarai lomba. Karena konon menurut kepercayaan dengan ritual tersebut dapat menghindarkan sapi dari serangan gaib pihak lawan, sehingga perlombaan bisa dilakukan dengan kekuatan yang sebenarnya. Namun ada juga yang percaya bahwa ritual pemilik sapi dapat meningkatkan kekuatan dari sapinya.

Keunikan Karapan Sapi

Sejarah Kerapan sapi
Adira Finance

Kerapan sapi merupakan kesenian khas Madura dengan cara mengadu kecepatan sapi, maka dari itu dilakukan berbagai cara untuk menjuarainya.

Salah satunya adalah dengan menggunakan cabai yang di lumurkan pada pantatnya, kemudian di pukul menggunakan paku agar sapi dapat berlari sekencang kencangnya.

Bagi masyarakat Madura Kerapan sapi merupakan acara yang cukup prestisius.

Bagi sang pemenang sapi karapan, mereka akan merasa status sosialnya terangkat jika sapinya juara.

Selain itu hewan ini juga dijadikan sebagai alat investasi selain emas dan uang.

Maka tidak mengherankan jika para pemilik sapi kerapan akan berjuang keras untuk membuat sapi-sapinya agar menjadi pemenang dalam setiap pertandingan kerapan.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar