3 Prinsip Kerajinan Bahan Limbah Keras Organik & Anorganik [Lengkap]

Setelah mengetahui beragam contoh produk kerajinan dari bahan keras, selanjutnya kita akan membahas tentang prinsip kerajinan bahan limbah keras.

Ini penting mengingat terdapat sifat-sifat yang melekat pada bahan limbah keras yang mempengaruhi proses kegiatan kreasi sehingga hasilnya pun akan semakin maksimal.

Seperti yang kita ketahui, ada banyak jenis bahan limbah yang dapat diolah menjadi bahan yang sangat potensial untuk pembuatan pembuatan kerajinan.

Jika anda adalah salah satu kreator kerajinan, maka ini penting diketahui sebagai bagian dalam meningkatkan kualitas skill menyulap sesuatu menjadi aneka kerajinan yang unik dan menarik.

Memahami Prinsip Kerajinan Bahan Limbah Keras

Prinsip Kerajinan Bahan Limbah Keras
toriqacom

Sebelum membahas lebih jauh tentang apa yang dimaksud prinsip-prinsip kerajinan bahan keras, alangkah lebih baiknya jika anda mengetahui aneka contoh kerajinan dari bahan keras alam yang telah saya bahas sebelumnya.

Disana dijelaskan bahwa kerajinan bahan keras merupakan aktivitas kreasi atau produk kerajinan yang terbuat dari bahan yang bersifat keras, tidak mudah hancur, tidak mudah dibentuk, dan kuat.

Jadi, ketika kerajinan ini sudah dibuat, maka terdapat prinsip agar limbah kerajinan keras ini tidak menumpuk.

Prinsip kerajinan dalam hal ini dikenal dengan 3R yaitu, Reduse, Reuse, dan Recycle.

Maka dengan menerapkan prinsip-prinsip ini kemungkinan akan meminimalisir limbah yang dihasilkan dari kerajinan limbah keras.

Baik, kita bahas satu-persatu.

Recycle

Recycle adalah istilah dalam mendaur ulang barang-barang yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi menjadi barang yang punya nilai guna. Entah dijual, digunakan dan sebagainya.

Contoh Penerapan Recycle

Contohnya seperti botol plastik yang sudah rusak, itu bisa kita jadikan tempat untuk tanaman hidup, tempat pensil, maupun hiasan lainnya.

Efeknya adalah, dari limbah yang didaur ulang tersebut dapat menghidupkan kembali daya guna dari sebuah barang, walaupun secara fungsi mungkin tidak semaksimal pada saat belum menjadi limbah.

Selain itu, dengan aktivitas mendaur ulang akan memacu berkembangnya kreatifitas seseorang. Dan itu sangat positif baik untuk diri sendiri, maupun lingkungan.

Reduce

Untuk Reduce sendiri mempunyai arti mengurangi atau memaksimalkan penggunaan barang, supaya limbah yang kebanyakan dibuang tidak menjadi hal yang tidak berguna, padahal fungsi dari limbah sendiri masih ada.

Contoh penerapan reduce

Sesudah membeli air minum dalam kemasan botol yang berbahan (plastik sekali pakai), hal yang umum dilakukan biasanya kan dibuang.

Nah, karena sifat dari limbah tadi adalah anorganik (plastik dan botol) maka jika dibuang, limbah ini tidak mungkin akan terurai, bahkan sampai berpuluh-puluh tahun atau bahkan tidak bisa terurai sama sekali. Lihat penjelasan tentang prinsip kerajinan bahan lunak yang telah saya bahas sebelumnya, agar tahu perbedaannya.

Jika demikian, maka hal yang dapat kita lakukan adalah menggunakan botol yang tidak sekali pakai, misalnya seperti botol berbahan plastik yang dapat digunakan berkali-kali ataupun botol kaca.

Reuse

Reuse artinya memanfaatkan kembali barang-barang yang sekiranya masih bisa digunakan tanpa harus membuangnya dengan sia-sia.

Contoh penerapan reuse

Ketika anda berbelanja ke toko, terkadang kita lupa membawa tas kain dari rumah.

Nah, solusi satu-satunya mungkin adalah dengan membeli tas plastik yang sudah ada di toko tersebut.

Ketika sudah tidak terpakai lagi, usakan dari sekarang jangan dibuang tas plastik tadi, karena fungsi dari tas tersebut masih ada. Selagi juga tas tersebut tidak rusak atau robek, namun jika memang rusak maka dibuang tidak masalah, karena fungsi untuk menyimpang barang sudah tidak dapat digunakan lagi.

Jika hal ini anda lakukan dengan baik, maka penambahan jumlah sampah akan berkurang.

Prinsip kerajinan bahan limbah keras antara lain; reducereuse, dan recycle dimana dalam proses pembuatan produk kerajinan harus selalu diterapkan. Tindakan ini cukup efektif mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dalam proses produksi kerajinan.

Bagi para pemula, memang tidak mudah menggunakan bahan limbah keras untuk dirancang menjadi sebuah produk kerajinan.

Maka dari itu, disini dituntut harus punya motivasi yang besar dalam proses kreatif dan mengatasi masalah limbah di lingkungan, sehingga tidak akan terasa sulit untuk melahirkan rancangan yang besar.

Dengan kita mengetahui serta memahami akan prinsip dasar kerajinan, maka akan membangun kesadaran (diri maupun lingkungan) bahwa mengupayakan desain bahan limbah keras adalah proses menata ulang kebermanfaatan dari sebuah produk yang dianggap sudah hilang nilai gunanya.

Karena prinsipnya, sebuah rancangan bersifat berkelanjutan atau sustainable design, tidak hanya cukup secara ekonomi, namun juga harus mengintegrasikan isu-isu lingkungan, sosial, maupun budaya ke dalam produk.

Salah satu tujuannya juga adalah agar desain lebih dapat bertanggung jawab dalam menjawab tantangan dalam masyarakat global. Demikian juga dengan seorang desainer produk, dimana ia harus memahami pentingnya pemahaman ini.

Ketika seseorang telah memperoleh daya serap, imajinasi melalui pengetahuan terhadap materi bahan, alat serta proses yang akan ditekuninya, maka seseorang itu baru akan menemukan sistemnya atau proses kreatifnya.

Pemahaman secara maksimal terhadap bahan limbah keras, penggunaan alat serta kemampuan keteknikan dalam bertukang akan melahirkan sebuah proses kreatif itu sendiri.

Jadi, daya kreatif dalam diri harus diupayakan tercipta dengan banyak langkah, karena setelah kreativitas muncul maka akan melahirkan produk-produk berkualitas.

Prinsip Kerajinan Bahan Limbah Keras Organik dan Anorganik

Secara umum, kita bisa membagi limbah keras menjadi dua, yaitu limbah keras organik dan anorganik. Lihat juga prinsip kerajinan dari bahan lunak, baik juga jenis dan karakteristiknya.

Limbah keras organik merupakan jenis limbah yang berasal dari alam, baik sumbernya dari tumbuhan maupun hewan yang bersifat keras, padat, dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terurai dalam tanah.

Sementara limbah keras anorganik ialah jenis limbah yang berbentuk padat, keras, sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk diuraikan atau tidak bisa membusuk.

Contoh kerajinan dari bahan keras alam juga telah saya share, berikut jenis bahan dan cara membuatnya.

Beberapa contoh limbah keras anorganik diantaranya adalah plastik, pecahan keramik, pecahan kaca, dan baja.

Jenis limbah anorganik berasal dari sumber daya alam maupun kimia yang tidak dapat diperbaharui.

Bahkan aktivitas akumulasi dari limbah (keras maupun lunak) yang merupakan sisa hasil buangan bisa berpotensi menjadi polutan (penyebab polusi). Maka dari itu, kita perlu proses daur ulang limbah untuk lebih dimaksimalkan lagi guna jadi penanganan yang efektif.

Proses/Cara Mengurai Limbah Keras/Anorganik 

Sistem pengolahan antara limbah organik dan anorganik tekniknya tentu tidak sama.

Secara umum, limbah organik di daur ulang menjadi pupuk tanaman hingga dijadikan sebagai bahan bakar biogas. Sedangkan limbah keras yang terdapat di lingkungan sekitar kita biasanya terlebih dahulu dilakukan pengolahan melalui beberapa cara.

Berikut ini sistemnya :

  1. Sanitasi (Sanitary Landfill). Sanitary landfill merupakan sebuah metode dalam pengolahan sampah yang terkontrol dengan sistem sanitasi yang baik.
  2. Pembakaran (Incineration). Incineration adalah sistem dimana sampah dibakar di dalam alat insinerator, dan hasil pembakarannya berupa gas serta residu pembakaran.
  3. Penghancuran (Pulverisation ). Dalam sistem pulverisation, penghancuran sampah biasanya dilakukan di dalam mobil pengumpul sampah yang sudah dilengkapi dengan beberapa alat pengaduk sampah. nah, sampah-sampah ini akan langsung dihancurkan menjadi potongan-potongan yang kecil sehingga akan mudah dimanfaatkan untuk menimbun tanah yang letaknya rendah.

Beberapa contoh limbah keras yang dapat didaur ulang diantaranya cangkang kerang, tempurung kelapa, tulang belulang, plastik, logam, kaca, plastik, dan kaleng.

Nah, dari beragam jenis limbah keras ini nantinya dipilah-pilah sesuai kebutuhan, maka jika dinilai ada yang tidak layak pakai, limbah dapat diselesaikan dengan cara dibakar.

Sebaliknya, jika ada limbah yang masih dalam kondisi utuh, itu bisa dimanfaatkan kembali menjadi karya kerajinan. Apabila limbah sudah berhasil diolah menjadi barang kerajinan, maka secara ekonomi nilainya akan meningkat.

Sebagai generasi muda, kita perlu menanamkan rasa kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan hidup sejak dini. Ini tentu akan jadi tantangan dan membutuhkan usaha serta kreativitas kita untuk memperbaiki kondisi lingkungan menjadi lebih baik.

Pengetahuan yang baik tentang desain yang berkelanjutan seperti yang sudah dijelaskan diatas perlu dipelajari lebih dalam, sehingga solusi limbah keras sebagai bahan baku kerajinan bisa kita kembangkan berdasarkan analisis yang tepat.

Pernahkah anda berkunjung atau sekedar melihat kegiatan pameran kerajinan, kerajinan dari bahan limbah keras?

Ada banyak sekali hasil karya putra putri bangsa Indonesia sungguh luar biasa, kental akan kearifan lokal serta budaya Nusantara, sehingga menggugah hati untuk membeli.

Jika produknya memang berkualitas, maka harga tidak lagi menjadi persoalan. Hal demikian juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia termasuk orang-orang yang kreatif dan senang mencari peluang, mereka juga punya rasa peduli (cinta) terhadap produk dalam negeri.

Dalam penciptaan produk kerajinan dari limbah keras itu lebih condong ke bagaimana menampakkan ciri khas pengrajin dalam mengembangkan desain kerajinan nya.

Indonesia itu sudah sejak dahulu kala masyarakatnya menggunakan produk kerajinan sebagai alat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mulai dari kebutuhan pribadi, rumah tangga bahkan sampai sekadar kebutuhan penghias rumah atau tempat kerjanya.

Nah, berdasarkan hal itu maka kerajinan dari bahan dasar limbah keras dapat diolah sedemikian rupa dengan berbagai bentuk dan fungsinya.

Beragam jenis produk di atas punya ciri khas bahan dari limbah organik atau anorganik sebagai bahan dasarnya.

Beberapa contoh bahan yang bisa diolah menjadi produk kerajinan dari bahan limbah diantaranya seperti:

  • Aneka cangkang kerang.
  • Sisik ikan.
  • Tulang ikan.
  • Tempurung kelapa.

Sedangkan bahan-bahan yang bisa diolah sebagai kerajinan dari limbah keras anorganik adalah:

  • Botol plastik.
  • Pecahan keramik dan pecahan kaca.

Coba perhatikan, kira-kira jenis produk apa yang bisa dihasilkan dari bahan limbah keras tersebut.

Amati dan teliti lebih jauh jenis-jenis bahan limbah keras yang sekiranya bisa anda temukan di sekitar lingkungan anda yang dapat dimanfaatkan sebagai produk kerajinan.

Aspek Rancangan dalam Produk Kerajinan  Bahan Keras

Inti dari proses pembuatan sebuah produk kerajinan tentu tidak lepas dari salah satu unsur penting, yakni bagaimana melakukan pertimbangan ketika sedang menciptakan rancangan yang nantinya bisa melibatkan berbagai aspek teknologi dan juga mengandung tanggung jawab terhadap budaya bangsa Indonesia.

Ada beberapa faktor dalam menciptakan produk kerajinan yang perlu menjadi bahan acuan dan pertimbangan.

Beberapa faktor permasalahan objektif yang dibutuhkan untuk diketahui sebelum perancangan adalah sebagai berikut:

  1. Faktor Teknis: faktor ini melibatkan metode produksi yang handal, penerapan daya mesin atau manual, serta tingkat kemahiran sumber daya manusianya.
  2. Faktor Ekonomis: yaitu sistem promosi yang tahan persaingan, sistem pemasokan maupun distribusi, kebijakan penciptaan (hak cipta), nilai jual serta keberadaan suku cadang atau sumber daya bahan dan alat), selera masyarakat terhadap produk tersebut.
  3. Faktor Ergonomis: terdiri dari kenyamanan, keamanan, kesesuaian, serta kepraktisan.
  4. Faktor Sains dan Teknologi: dalam perkembangannya pun juga terdapat unsur temuan baru hasil dari inovasi atau modifikasi teknologi , selalu mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi.
  5. Faktor Estetika: kerajinan pasti akan menampilkan bentuk keindahan, sehingga memiliki daya pikat, terjadi keserasian, penggarapan yang rinci dan detail, pewarnaan, kesan atau gugahan yang ditampilkan.
  6. Faktor Kondisi Lingkungan: yaitu nilai budaya, kondisi lingkungan atau wilayah dimana lokasi kerajinan diproduksi dan di distribusikan.

Tinggalkan komentar